Selasa, 24 Maret 2009

Teman Khayalan (Cerpen)

Takdir memang tidak ada yang tahu, siapapun tidak bisa menerkanya. Seperti diriku yang ditakdirkan mengenal seorang cewek namanya Dini dengan cara yang unik atau mungkin amat lucu bagiku. Mungkin bagiku perkenalan itu tanpa disengaja. Awal perkenalan itu ketika aku pulang kuliah dan merasa BT banget gak ada lagi yang mau dikerjai, lantas muncul ide iseng untuk miscallin temen-temenku. Ketika lagi miscallin muncul ide iseng dipikiranku untuk mencoba miscall dengan memasukkan nomor asal tebak.

Pertama gagal masuk, kedua juga, tapi yang ketiga terdengar nada NSP yang bisa kutebak pasti ini nomor cewek. Makin hari makin sering aja aku miscallin tu nomor tapi lama kelamaan aku mikir kasihan juga kalau aku yang dikerjai begini. Suatu hari kukirim SMS ke nomor itu. “sorry ya aku udah ngerjai kamu selama ini. Aku janji aku gak akan gangguin kamu lagi”. Aku berharap setelah itu dia ngelupain semuanya tentang hal ini tapi aku salah ternyata dia merespon SMSku. Tit….tit….tit HPku berbunyi kemudian aku baca satu pesan masuk. “maaf ya memang kamu udah salah apa sama aku sampai minta maaf segala”. Setelah aku baca SMSnya aku berpikir apa dia gak ngerti, kemudian aku kirim lagi SMS. “aku kan selam ini udah miscallin kamu. jadi aku merasa bersalah banget, jadi please banget maafin aku ya !”. beberapa saat kemudian SMSnya masuk lagi. “iya saya maafin kamu dan kamu harus mau memperbaiki diri sendiri, OK !. tapi aku seneng kok kalau kamu jadi temen aku”. Aku seneng baca SMSnya tapi aku heran kok dia mau berteman sama aku, tapi hal itu gak penting banget sama aku. Lalu kukirim SMS lagi, “makasih ya udah maafin aku, hatiku udah tenang nih ! thank’s ya !”. setelah itu gak ada lagi SMS darinya.

Suatu malam saat aku lagi boring banget dan gak tau mau curhat kemana, bingung. Tapi aku ingat sama nomor misterius itu, dengan isengnya ku kirim SMS “boleh gak aku curhat sama kamu, tapi kalo kamu gak mau ya gak apa-apa”. Kirain SMSku enggak direspon sama dia tapi aku salah. Beberapa menit kemudian SMSnya masuk. “boleh-boleh aja kamu curhat sama aku tapi kan lucu kalo aku gak tau siapa kamu. Kasih tau dong nama kamu”. Kemudian aku balas SMSnya “namaku Faisal, salam kenal dari aku”.

Malamnya aku enggak nyangka bakal nerima SMS darinya, “ sal kamu lagi ngapain ……..?”. Seterusnya kami SMSan panjang lebar sampai nanya kuliah dimana. Setelah itu aku jadi makin akrab ngeSMS dia layaknya udah saling kenal banget padahal kenyataannya enggak gitu.

Suatu malam aku coba menghubungi nomor Dini dan diangkat sama dia, pertama-tama sih garing banget ngobrolnya tapi lama kelamaan asyik juga tu cewek diajak ngobrol. Saat aku curhat sama dia gak taunya malah dia yang balik curhat sama aku. Kan lucu banget aku yang mau minta komentar darinya, eh malah aku yang ngasih komentar sama dia, ya udah lah kupikir.
Tapi saat aku menelepon dia suatu malam dia ngomong, “sal aku pengen jumpa deh sama kamu, boleh gak !”. aku jadi kelabakan tapi dengan tenang aku katakan, “kayaknya aku belum siap nih ketemu kamu, soalnya aku gak pengen kamu jadi kecewa nanti kalau jumpa sama aku. Kalau aku udah siap aku bakal ngasih tau kamu, OK !” kataku. “tapi beneran ya” katanya. “OK !” kataku.

Sebelum ketemuan, aku cari informasi duluan tentang Dini di kampusnya. Saat aku berada dikampusnya aku nanyai orang-orang yang sama jurusannya sama Dini, akhirnya aku dapati ciri-ciri Dini sebenarnya. Esok pagi sebelum aku pergi kekampusku aku nongkrong bentar di depan kampus Dini untuk memastikan Dini sesungguhnya. Betapa kaget diriku, terperanjat, terpesona ketika aku melihat seseorang yang memiliki ciri-ciri seperti Dini. Ternyata benar apa kata teman-temannya Dini memang cantik, lembut, ayu dan pastinya tajir banget, pantesan hampir satu kampusnya tau yang namanya Dini, tapi kupastikan lagi ketika Dini masuk ke kampus aku bertanya kepada orang yang berjalan ternyata benar itu memang Dini.

Di kampus aku berpikir mana mungkin Dini mau ketemu sama aku, pasti Dini nanti kecewa kalo lihat keadaan aku berbeda banget sama dia. Bayangin aja aku yang Cuma punya penampilan sederhana berteman dengan Dini, cewek yang tajir dan cantik plus jadi inceran cowok di kampusnya, pasti Dini nyesel banget kalo jumpa sama aku. Akhirnya aku mutusin untuk gak ketemuan sama dia. Kadang datang SMS dari Dini yang mengatakan kapan bisa ketemuannya, tapi kujawab dengan berbagai alasan sehingga Dini percaya begitu aja padahal itu kulakukan untuk mengelak bertemu dengannya.

Sejak saat itu aku mulai jarang ngeSMS Dini, aku berharap aku bisa melupakan Dini. Tapi jika itu tidak bisa terjadi maka Dini akan kujadikan seorang teman khayalan yang ada di dalam imajinasiku karena tidak mungkin persahabatan kami terjalin dalam kehidupan nyata akibat perbedaan yang mencolok antara aku dengan Dini.

Semuanya kuserahkan pada takdir dan yang mengaturnya. Biarlah jalan hidup yang memutuskan apakah persahabatan kami menjadi nyata atau hanya jadi persahabatan khayalan yang cuma bisa dibayangkan. Untuk teman khayalanku thank’s udah mau menjadi temanku. (F.H.P)