Selasa, 24 Maret 2009

Cinta Yang Terluka (Cerpen)

Cinta memang sulit dipahami, karena jika cinta itu indah maka takkan ada orang yang mati sia-sia karena cinta itu. Tapi jika cinta itu jelek mengapa jika jatuh cinta kita merasa bahagia. Itulah cinta sesuatu yang penuh misteri yang bisa dirasakan hati tapi sulit untuk dimaknai.

Isal mungkin bukan salah satu cowok yang malang dalam urusan cinta, tapi yang pasti Isal adalah salah satu korban dari cinta itu sendiri. Ketika Isal masih SMP Ia mengenal seorang cewek namanya Reva, mungkin perkenalan itu tanpa disengaja. Artinya, Isal telah satu sekolah sama tu cewek, tapi ketika kelas tiga Isal mulai menaruh hati padanya. Entah cupid mana yang telah menembakkan panah asmaranya kepada Isal atau barangkali salah sasaran …...entahlah manusia hanya bisa menerka.

Ketika bunga-bunga asmara mulai bersemi dihati Isal disitulah ketulusan hati Isal diuji. Mungkin Isal terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaannya kepada cewek itu, padahal kalau dilihat dari perilaku Isal, siapapun sudah bisa menebaknya. Hingga tibalah perpisahan sekolah dari SMP yang begitu indah sekaligus menyedihkan bagi Isal. Disaat terakhir Isal dan Reva akan berpisah mereka sempat ngobrol untuk beberapa saat.

“Isal nanti ngelanjut kemana ?”tanya Reva. “kalo aku sih belum terpikirkan! kalau Reva emang ngelanjut kemana ?”jawab Isal dengan balik bertanya. “Kalau Reva sih pengennya ngelanjut SMA di Binjai”jawabnya. “Ohhh…….!”Isal mengangguk. Sebenarnya bukan Isal tidak memikirkan akan sekolah dimana tapi yang ada di benak Isal hanyalah perpisahan yang begitu cepat antara Isal dan Reva.

Tibalah masa SMA yang kelabu bagi Isal, Isal memilih sekolah SMA di Medan. Itu sudah tekad bulat bagi Isal, ia tak ingin dirinya selalu teringat kepada Reva. Isal mencoba fokus pada sekolahnya, ia hanya bisa pasrah jika Tuhan menghendaki pasti mereka akan bertemu lagi, bertemu dalam suatu kondisi yang masih penuh misteri.

Kadang Isal merindukan Reva tapi setelah Isal memandang photo Reva ia bisa lega dan yang ada di dalam benaknya saat itu mungkin Reva bahagia disana walaupun tanpa seseorang seperti Isal.

Masa SMA telah usai saatnya Isal melanjut ke perguruan tinggi. Tibalah ujian SPMB yang menentukan masa depan Isal. Saat ujian SPMB usai Isal bertemu dengan temannya Reva, melalui temannya Isal tahu bagaimana keadaan Reva disana. Tentu saja Isal senang dengan mendapatkan informasi ini apalagi temannya Reva memberi nomor HP Reva, sehingga Isal senang bukan kepalang dibuatnya apalagi Isal juga merasa kangen sama Reva. Langsung malamnya Isal menghubungi nomor tersebut. Saat itulah kebahagiaan Isal seperti kembali seperti semula seperti masa-masa SMP dulu. Isal dan Reva berbicara panjang lebar, tertawa riang melepaskan rindu yang berkecamuk di dalam dada selama ini.

Pengumuman kelulusan SPMB telah keluar, tapi Tuhan berkehendak lain kepada Isal. Isal tidak lulus SPMB, sedangkan Reva lulus di USU. Betapa rapuh hati Isal saat itu, kalut, gelap, pekat yang dirasakannya. Tak ada lagi gairah semangat yang ia punya karena harapannya yang pupus untuk bertemu Reva. Suatu malam Isal berpikir kenapa ini terjadi padanya dan ia menyadari bahwa ia sedang diuji, seberapa tegar ia untuk menghadapi setiap rintangan yang menghalangi. Selama setahun Isal mencoba belajar dengan tekun untuk mengikuti SPMB sekali lagi, walaupun selama setahun itu bagi Isal adalah suatu penantian panjang yang penuh rindu yang mendalam.

Memang jika Tuhan menghendaki apapun pasti akan terjadi. Pada SPMB berikutnya Isal lulus, tidak sia-sia selama ini pengorbanan perasaan dan harapannya. Benar juga jika kita menjalaninya dengan tulus kita akan mendapatkan keberhasilan yang memuaskan hati. Masa kuliah tiba, dan suatu pagi di kampus Isal bertemu dengan Reva yang bagi mereka itu suatu perjumpaan yang tidak terduga dan penuh rasa haru dan bahagia. “Isal kamu kuliah disini !”kata Reva kaget. “Iya, gak nyangka ya aku jumpa lagi sama kamu”kata Isal penuh bahagia. Dan seterusnya mereka selalu bertemu di kampus, Isal pun merasa semakin dekat dengan Reva. Suatu saat Isal berpikir perasaan itu harus dikatakan kepada Reva, ia tak ingin lagi mengulangi kesedihan untuk kedua kalinya. Isal yakin bisa mengatakannya walaupun di dalam hati ia merasa ragu untuk melakukannya. Dan saat yang paling tepat adalah esok hari saat pulang kuliah. Malamnya Isal terus berpikir apa yang akan dikatakan esok hari kepada Reva, sampai pikiran itu membiusnya kedalam tidur yang indah beralaskan bumi yang merona.

Hari ini adalah hari dimana Isal akan memastikan cintanya pada Reva. Di dalam kelas Isal mulai tidak tenang belajar, yang ada di benak Isal hanya ingin cepat-cepat mengungkapkan perasaan yang menggebu-gebu itu. Kuliah telah usai Isal langsung terburu-buru keluar kelas untuk mencari Reva, kebetulan cuacanya pun cukup mendukung saat itu tidak dingin, tidak panas hanya angin sejuk yang membawa pesan mendung.

Nah itu dia guman Isal dalam hati. Akhirnya menemukan Reva yang duduk sendiri menatap kedepan yang dipenuhi imajinasi. Isal memperlambat langkahnya untuk menenangkan hati agar kata yang diucapkannya nanti akan keluar dengan tenang dan perlahan. Ketika mulai dekat dengan Reva Isal memanggilnya “Re.….” saat itu juga mulut Isal terhenti mengucapkannya ketika ia melihat seorang cowok datang menghampiri Reva. “udah lama ya nunggu”kata cowok itu. “gak lama banget kok”kata Reva dengan tersenyum senang dan langsung menggandeng si cowok tersebut. Betapa hancur hati Isal saat itu seperti kaca yang pecah dan berserakan di lantai yang basah, licin dan tajam yang bisa melukai setiap orang yang ingin melauinya.

Isal membalikkan langkah kakinya yang tak menentu. Tidak terpikirkan lagi tujuan yang ia cari hari itu. Ia berjalan dengan penuh kesedihan diiringi rintik hujan yang mulai turun dari langit, seakan langit ikut merasakan kepiluan hatinya. Makin lama rintik hujan menjadi air yang bening membasahi bumi. Isal tidak memperdulikan lagi hujan yang membasahi dirinya dan dingin yang menerpa tubuhnya. Isal terus melangkah bermandikan hujan yang akan melarutkan segala kepedihan yang ia punya. Sayup-sayup ia mendengar lagu miliknya Caffeine…………. (F.H.P)

Kau yang telah pergi
Saat – saat yang terindah
Kurasakan takkan pernah ada lagi
Hanya tatapan matamu
Hanya senyuman manismu di wajahmu
Yang tak akan terlupakan
Kau telah pergi
Tinggalkan maaf yang tak terucap
Dan takkan kembali
Tersimpan kini janjiku di hati