Selasa, 24 Maret 2009

Cinta Yang Abadi (Cerpen)

Cinta memang penuh misteri, hadir tanpa permisi dan pergi tanpa dikehendaki. Jika cinta sudah merasuk ke hati apapun akan dilakukan untuk sang pujaan hati. Seperti diriku yang tak luput dari cinta. Pada umumnya seperti cewek lain aku naksir seorang cowok dikampusku, bagiku dia seorang pangeran yang mampu melindungiku dalam keadaan apapun. Namanya Isal, seorang cowok yang keren , tenang, tubuh atletis…….wow!, dan yang pasti dia itu orangnya smiley banget, mungkin itulah yang membuat aku naksir tu cowok. Terus yang membuat aku semakin kagum dengannya yaitu walaupun dia punya tampang yang mendukung tapi dia orangnya gak sombong.

Kadang aku merasa jelous banget kalau Isal deket-deket sama cewek lain…….aneh ya!. Padahal gak ada yang mengikat hubungan aku sama dia, paling cuma temen. Pernah aku hampir ketauan ketika ngumpul bareng sama temen-temen. Waktu itu Isal lagi ngomong sama temenku cewek terus tertawa, aku jadi cemberut, karuan aja saat Isal ngeliat aku dia langsung ngomong, “Zahra hari ini kok diam aja, kamu gak apa-apa kan ra?”. “Eh…..gak apa-apa kok sal !, aku cuma gak pengen ngomong aja hari ini” jawabku dengan gugup……fiuhhh hampir aja ketahuan hatiku berguman.

Suatu hari di kampus aku termenung sendiri berpikir kenapa aku gak terus terang aja sama Isal, kalau aku tuh sayang banget sama dia tapi aku gak berani mengungkapkan itu semua, kan aneh kalau cewek yang nembak duluan. Tapi aku juga gak sanggup kalau terus begini memendam perasaan yang terus berkecamuk dihati, yang selalu mengusik hari-hariku. Apa aku harus terus tersiksa begini ?.

Tiba-tiba Isal datang membuyarkan lamunanku, “hei zahra kok sendiri aja”kata Isal dengan gayanya yang cool. “Ehm…..lagi pengen sendiri aja”jawabku. “kalo gitu aku temenin ya, boleh kan!”kata Isal, “boleh”kataku dengan tersenyum. Lama kami terdiam membisu, aku bingung harus ngomong apa, kayaknya kalau aku sudah deket dia pikiranku jadi buyar, sikapku grogian, susah! Aku jadi bingung sendiri. Tapi aku beranikan buka percakapan. “Isal aku boleh nanya dikit gak?”kataku agak gugup. “boleh dong ra, emang mau nanya apaan sih!”kata Isal dengan tersenyum kehadapanku, wajahkku jadi memerah tapi sedikit kutundukkan biar enggak ketauan Isal. “Isal kamu punya seseorang yang special gak dihatimu ?”kataku. Isal terdiam sejenak lalu menatap kearahku dalam-dalam kemudian dia tersenyum, “aku punya seseorang yang special dihatiku, orangnya baik, perhatian banget sama aku, walaupun dia itu cewek biasa-biasa aja tapi bagiku dia istimewa banget, emangnya kenapa ra ?”Isal balik bertanya. “oh….gak apa-apa kok pengen tau aja”jawabku dengan pelan, terus terdiam, aku sedih banget sebenarnya mendengarnya tapi gimana Isal kan berhak menentukan pilihannya.

Aku terdiam, “sal jika kamu mencintai seseorang tapi kamu takut cinta kamu bakal ditolak, apa yang bakal kamu lakukan sal?”katakku lirih. “kalau menurut aku sih sebaiknya diungkapkan aja perasaaan itu, gak perlu takut ditolak yang penting kepastian dari cinta kit,a dan kita pun puas karena jujur dengan perasaaan kita, daripada tiap hari kita tersiksa sama perasaan kita sendiri kan itu lebih sakit daripada ditolak”kata Isal.

Malamnya aku termenung apa yang dikatakan Isal benar, memang terlalu sakit jika memendam perasaan seperti ini. Aku berpikir bagaimana caranya aku mengungkapkan perasaan ini padanya. Tapi bagaimana?. Ya …..aku dapat ide, aku akan buat surat untuk mengatakan perasaanku sesungguhnya. Aku gak peduli akibatnya nanti, yang penting aku enggak merasa tersiksa lagi seperti ini. Malam itu juga kutulis surat yang berisi kata hatiku, kutulis sejujur-jujurnya, kulipat surat itu dengan rapi lalu kubungkus dengan amplop pink. Sebelum tidur aku berdoa semoga apa yang kulakukan ini adalah yang terbaik bagiku. Akhirnya aku tertidur dengan tenang untuk menghadapi esok hari yang penuh misteri.

Esok harinya di kampus aku mencari Isal untuk memberikan suratku. Tapi apa yang kukdapatkan saat aku melihat Isal, Isal bersama dengan seorang cewek begitu akrab, Isal begitu ceria berada disamping cewek itu, beda ketika Isal berada didekat cewek yang lain. Saat itu juga perasaanku rapuh, kecewa, tanpa sadar airmata menetes dipipiku. Dan aku berlari tanpa menghiraukan keadaan disekitarku. Kemudian sesuatu yang tidak kuinginkan terjadi……………ciiiiiiiiiiit…….bruuk ! kudengar rem yang kencang dan aku merasakan tubuhku terhempas ke jalan dengan keras.

Tidak berapa lama Isal datang menghampiriku, “Zahras….! Kamu kenapa ra…!, pak tolongin bawa kerumah sakit!”kata Isal sedikit panik. Aku gak tahu lagi bagaimana keadaan disekitarku. Isal membopong tubuhku yang tak berdaya. Samar-samar kulihat wajah Isal diliputi kecemasan. Isal terima kasih batinku pelan. Semakin lama aku merasakan mataku makin berat dan……….gelap.

Aku terbangun tapi aku sudah berada ditempat lain, tapi dimana…….oh aku tahu, tapi kenapa aku disini. Aku berpikir sejenak , ya aku mulai ingat kejadian tadi tapi kok rame banget. Ayah, ibu kulihat mereka menangis sedih, aku jadi merasa ikut sedih dibuatnya. Oh ya Isal mana ya…….itu dia tapi kulihat Isal sedih juga dan penuh keputus asaan, lalu kudekati dan kudengar Isal berkata dengan penuh penyesalan, “Zahras kenapa kamu gak pernah bilang kalo kamu itu sayang sama aku, aku memang bodoh, kalau aku tahu mungkin semua ini gak akan terjadi. Asal kamu tahu ra sebenarnya aku juga sayang sama kamu. Seseorang yang istimewa dihatiku Cuma kamu ra! Kenapa aku gak jujur saat itu padamu ra”.

Satu-persatu orang mulai pergi meninggalkan diriku. Tinggallah hanya Isal yang terus menangisi diriku. “Isal ayo kita pulang!”teman Isal memanggil dari belakang. Isal mengangguk pelan tapi ia memberi isyarat untuk memberikan waktu sedikit lagi. “Zahras dirimu takkan hilang dari hatiku, semoga kamu tenang disana ra. Aku sayang kamu” kata Isal dalam isak tangis. Aku terenyah mendengar itu, aku juga merasa bersalah karena terlalu lama mengungkapkan perasaan itu padanya sehingga hal ini terjadi. Perlahan Isal pergi meninggalkanku dengan langkah yang lambat dan surat pink ditangannya. Bayangan Isal semakin menjauh dariku diikuti gugurnya daun dari pohon bunga kamboja. Kini tinggal diriku di tempat yang masih asing bertemankan cinta sejati yang akan selalu abadi. (F.H.P)