Selasa, 24 Maret 2009

Cinta Dalam Kekecewaan (Cerpen)


Sudah tiga bulan aku berada di kota Padang, meninggalkan kota Medan tercinta. Disini pula aku mencoba mencari pengalaman hidup untuk bekal masa depanku. Dan ini semua harus aku lakukan walaupun aku meninggalkan kota Medan yang penuh kenangan, jauh dari keluarga, jauh dari teman-teman dan pastinya jauh dari seseorang yang aku cintai.

Kadang-kadang di suatu malam sebelum aku tertidur, kenangan-kenangan indah itu muncul kembali mengusik tidurku. Sehingga mau tak mau aku ikut kembali terhanyut kembali ke masa lalu sebelum kepergianku ke Padang. ”Hari Minggu aku mau pergi ke Padang” kataku pada Fara dua hari sebelum kepergianku. ”Kok kamu baru bilang sekarang...??” kata Fara sedikit kaget. Raut wajahnya yang awalnya cerah berubah sedikit kecewa dan sedih. ”Karena aku gak ingin bat kamu sedih Ra, sebelum aku pergi” kataku sedikit menenangkan dirinya walaupun masih ada raut kesedian diwajahnya.

Kemudian Fara dan aku terdiam, merenungi kenyataan yang akan terjadi, terpisah dalam jarak yang jauh dan dalam waktu yang belum bisa ditentukan. ”Berarti Isal ninggalin aku disini kan...??” tiba-tiba Fara bertanya memecah kesunyian. ”Walaupun aku jauh dari Fara tapi sayangku akan selalu menemani Fara” jawabku tegas. ”Ntar kalau Fara kangen kan bisa lewat SMS atau telpon” kataku lagi. Akhirnya ketenangan mulai tampak diwajah manisnya Fara setelah kukatakan hal itu.

Waktu selalu berjalan tanpa bisa kita hentikan. Keberangkatanku pun tidak dapat ditunda lagi. Sebelum pergi Fara berkata kepadaku ”Sal jangan lupain Fara ya...” katanya. ”Aku gak akan ngelupai Fara kok” kataku. ”Selama cinta masih ada dihati Fara, selama itu pula Fara akan ada dihatiku” kataku lagi. Kemudian Fara dapat melepas kepergianku dengan tenang, walaupun masih terasa kesedihan diraut wajahnya.

Lewat kaca jendela bus yang kunaiki, aku melihat Fara melambaikan tangan diselimuti kesedihan. Lambat laun Fara terlihat semakin jauh, seirng dengan laju bus yang kunaiki. Selama diperjalanan tak ada keceriaan yang bisa kurasakan, selain hanya merenungi takdir hidup yang harus kujalani, walaupun itu begitu berat bagiku.

Selama satu bulan dikota Padang, kerinduanku masih bisa terobati, karena kami masih bisa berkomunikasi lewat SMS atau telpon. Aku dan Fara pun mulai terbiasa dengan kondisi yang jauh. Tapi setelah memasuki dua bulan, komunikasi kami mulai terhenti, Fara perlahan-lahan mulai berubah. Mulai dari tak pernah balas SMS dariku hingga tidak mengangkat telpon. Disuatu malam aku berfikir mungkin Fara telah menemukan pengganti diriku, yang bisa membuatnya bahagia lagi disana.

Akhirnya aku memutuskan untuk melupakan Fara. Saat itu pula aku teringat kata-kata ku kepada Fara sebelum aku pergi ”Selama ada cinta dihati Fara, maka Fara akan selalu ada dihatiku”. Akhirnya aku mengerti cinta Fara untukku sudah hilang. Jadi percuma saja aku terlalu dalam memendam cinta dan kerinduan di hati kalau akhirnya hanya kekosongan yang aku dapatkan.

Sampai sekarang aku hanya mampu berharap dan menanti seorang Fara yang dulu lagi, atau akankah kutemukan sosok Fara yang lain yang bisa mengobati kekecewaan dan kerinduanku. Waktu akan terus berjalan di dalam kisah-kisah kehidupanku, hingga suatu saat akan kutemukan jawaban dari setiap lembaran kisah yang kujalani.

Aku bukan Tuhan...
Yang mampu mengubah jalan kehidupan...
Mengubah benci menjadi cinta...
Mengubah cerita menjadi nyata...

Aku hanya manusia biasa...
Yang akan selalu menjalani kehidupan...
Yang hanya berharap cinta dan kasih saying…
Yang akan selalu menjadi tokoh cerita dalam kenyataan...

Hanya waktu...
Yang mampu menjawab semua misteri kehidupan...

(FHP)